34 comments on “Pengertian Hakikat

  1. Assalamu alaikum..
    Tolong bersihkan ajaran islam dari faham2 tasawuf (berbahaya) seperti ini.
    islam dan tasawuf murni tidak pernah mengajarkan paham2 yang anda sebutkan.
    Utamanya konsep ittihad dan hulul.
    sebaik2 pègangan orang beriman adalah alquran dan as sunnah
    Sebaik2 contoh dan teladan bagi muslim adalah rasulullah muhammad saw.
    al quran dan rasulullah tidak pernah mengajarkan paham atau ilmu seperti ini…
    rasulullah adalah manusia yang paling mengenal dan dekat dengan tuhan..
    tapi pernahkah rasulullah (seberani itu) mengatakan hal2 seperti
    “dirinya adalah al haq ?!”
    ilmunya tiada lagi kebodohan ? (Mampukah manusia menjadi yang maha tahu ?)
    Fana ?
    (Jika pernah, tolong tunjukkan dalil2x)
    Sebagaimana agama sebelumya…selalu saja ada orang yang mencoba
    entah itu memasukkan pemahaman filsafat atau bahkan ungkapan perasaan pribadinya ke dalam agama ini.
    ungkapan2 diatas serupa dgn ungkapan kaum nasrani yg menyatakan bahwa
    “Tuhan mempunyai anak” atau konsep trinitas (tuhan anak, tuhan bapak) Atau komentar firaun yg menyatakan bahwa dia adalah tuhan.
    meski mereka menyangkal bahwa itu hanyalah ungkapan karena trinitas atau al haq yg mereka maksud tidaklah seperti apa yg orang awam pikirkan. Tapi kenapa Allah sangat murka mendengar ungkapan itu ?
    Itukan hanya sebuah ungkapan.
    apakah karena ilmu allah(sama seperti manusia awam) yang tidak mampu memahami “hakikat” ungkapan2 itu ?
    bahkan dalam alquran disebutkan bahwa kelak setiap nabi akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dikatakan umatx, apa benar mereka pernah mengatakan atau mengajarkan konsep2 sprti itu ?” (Tidak malu n tdk takutkah kita pada beliau ? Yg karena tingkah kita “yang ilmux tiada lagi kebodohan” telah membuat rasulullah seolah2 mengadakan kebohongan terhadap Allah ?”
    Kenapa konsep2 ini adalah kebohongan terhadap Allah dan Rasulnya ?
    Sekali lagi karena Allah dan rasulNya tdk pernah ajarkan konsep seperti ini.
    bukannya saya atau mungkin islam hendak mengkungkung kebebasan berfikir dan berekspresi seseorang, islam hanya mengajarkan untuk tidak melampaui batas. Karena sesungguhnya ajaran tauhid ataupun yg lainx berupa hukum atau syariat dalam alquran itu sdh jelas batasx. Itulah knp bahasa alquran adalah bahasa yg sgt luas maknax. Karena yg diungkap itulah menjadi dasar sekaligus batasx. Kita boleh meluaskan makna tapi jangan sampai melampaui batas makna sesungguhnya.
    ajaran tauhid yg dibawa n dijelaskan rasul baik melalui alquran maupun assunnah mmg terkadang perlu dijelaskan tapi tdk dengan konsep yg sdh melampaui batas itu.
    perlu diingat, bahwa konsep2 seperti ini selalu lahir jauh setelah nabi mereka tdk ada. Mereka terpesona dengan filsafat yang akhirx mereka lebih cenderung ke filsafat. Mereka tdk sadar telah memasukkan paham2 filsafat kedalam agama mereka.
    tapi sesuai janji Allah, allah sendirilah yang akan menjaga kemurnian agamanya.
    terakhir, saran saya kepada penulis…
    jauhilah sifat taqlid. Sangat banyak ayat dalam alquran yg mencela orang2 yang menerima begitu sj konsep2 yg mereka peroleh dari nenek moyang dan sejenisnya (termasuk guru atw siapapun) dan serta merta menganggapx kebenaran mutlak.
    dan jangan pernah menganggap komentar ini adalah gangguan. Jalan anda adalah jalan anda.
    dan jika memang anda menganggap sy berseberang jalan anda, maka ini hanyalah peringatan dari seseorang yang melihat dari sudutpandang yang berbeda. Saya hadir, selain sbgai pemberi peringatan sy jg pencari kebenaran. Krn masalah siapa yg sesat atau tidak hanya tuhan sjlah yg tahu.
    tugas kita hanyalah saling memperingatkan. mudah2an dengan diskusi seperti ini Allah memberi petunjuk kepada kita semua, amin..

    Suka

    • Assalamu Alaikum wr.wb.. Sodara Ahmad.. Allah Memerintahkan.. cegahlah dirimu dan keluargamu dari api neraka.. ingat itu perintah Allah..
      sekarang saya bertanya kepada anda?? apa anda yakin anda telah selamat dari api neraka?? .. kalo anda belum yakin.. lbh baik perbaikilah hubungan anda kepada Allah.. Jngn menilai seseorang berdasarkan pengetahuan anda.. krn tiap2 manusia diberi kelebihan dan dibukakan babul ilmi oleh Allah dgn cara dan tingkatan yg berbeda.. terkadang kita mengatakan sesuatu itu sebagai kebenaran.. dan memaksakan itu sebgai kebenran.. itu memang adalah kebenaran bagi diri anda.. karna sesuai dgn keterbatasan pemahaman anda.. tiap manusia memiliki tingkatan musyahadahnya sendiri.. para ahli fikih atau syariat berjalan kepada Allah dgn metode syariat menjauhi larangan dan mematuhi perintah.. demikian juga dengan para ahli hakikat.. tp dengan cara yg berbeda.. namun tdk keluar dari Alquran dan hadist.. ibadah adalah kecintaan kepada Allah.. bukan mengingingkan surga Allah.. dan takut kepada neraka.. seorang ahli tarikat dan tasawwuf.. tdk merasa terganggu dgn tudingan org2 yg tdk memahami hakikat.. krn memang itulah keterbatasan pengenalannya kepada Allah.. tasawwuf berbahaya kata anda?? tasawwuf barulah berbahaya jika tdk menyembah Allah dan muhammad bukanlah Rasul Allah.. tdk melaksanakan sholat.. berpuasa.. melaksanakan perintah2 Allah dan menjauhi larangan Allah.. serta menghalalkan yg haram.. itulah yg berbahaya.. anda menyembah Allah dan mencari Allah.. kami menyembah menemukan dan juga musyahadah kepada Allah.. Soal hakikat Nurul Muhammad.. semua Tasawwuf didunia ini sepakat bahwa itu bnr.. juga diakui oleh para ahlul sunnah waljamaah.. perbaikililah dirimu.. cegahlah dirimu dan keluargamu dari api neraka itu yg paling penting.. perbaiki diri dan berahklak kepada Allah.. anda dengan jalan anda.. dan kami dgn jalan kami.. kami menyembah Allah dengan kecintaan kepada Allah.. Kami menjadi ada karna adanya Allah.. tanpa Allah mustahil kami menjadi ada.. perbaikilah diri.. jangan menganggap org lain salah.. perbaikilah diri.. Pembahasan Nurul Muhammad dalam kitab Addurrun Nafiz ini.. masih lebih ringan dan bisa dicerna.. bila dibandingkan dgn tafsir Al Mishbah dari Qurayshihab.. yg jauh lebih rumit dan lebih halus.. seandainya anda membaca tafsir Al mishbah.. saya tdk tau lagi apa yg akan anda katakan??? belum lagi dalam kitab2 karangan Imamul Ghasali dan ibnu Attaillah.. yg juga jauh lebih rumit.. tolong temukan kitab Al Anwari karangan Syehk Abdul Qadir Aljaelani Sultanul Auliya.. di sana pembahasan Nurul Muhammad lebih dasyat dari pada ini.. bagi org tasawwuf ini hanyalah bacaan ringan sebagai pengantar kedalam ma’rifat.. bahkan riwayat Nurul Muhammad pun dibahas dalam kitab BUYA HAMKA (PEMURNIAN TAUHID) dan PENGANTAR ILMU TAUHID tulisan BELIAU.. pembahasan yg sangat ringan saja anda anggap berbahaya.. bagaimana dgn pembahasan beliau2 itu yg lebih rumit?? segala Puji hanya Milik Allah.. Baik dan Buruk.. Salah dan Benar Hanya Allah yg berhak menilainya.. hanya Allah pemilik Kebenaran yg hakiki.. Mungkin anda tdk memahami.. bahwa seseorang tdk akan memasuki gerbang tasawwuf jika dia bukan seorang ahli syariat.. sangat memahami hukum2 hadist ( hadist Rasulullah lebih dari 5 jt hadist shahih.. apa anda pernah membaca semuanya?) ahli dalam ilmu kalam dan tatabahasa Arab ..uzuluddin dan memahami aqidah.. serta menjaga ibadah2 wajib dan ibadah2 sunnah..

      Suka

      • Assalamu Alaikum wr.wb….Al-Quran diciptakan bukan hanya untuk di baca…tp untuk di Pelajari,di Mengerti dan di Fahami…begitu besar kesucian Al-Quran dengan sajak2 yang indah yg disuguhkan kepada kita….mengapa Al-Quran menggunakan bahasa yang penuh teka teki dalam bait2nya??…karen disitulah letak kesuciannya..Al-Quran tdk pernah terang-teranagan dalam membahas sesuatu…jika Al-Quran terlalu transparan dalam penyajiannya….maka kesucian Al-Quran tidak ada artinya…oleh karena itu…kita sebagai manusia yang mempunyai kewajiban mempelajari..mengkaji maksud2 dari firman firman Allah S.W.T yg disuguhkan dalam Al-Quran tersebut…sy termasuk hamba yg sedang belajar memahami tentang ilmu tasawuf..dan saya menikmati suguhan2 dr pemahaman ilmu ini….terima kasih.

        Suka

      • wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
        entah berapa kali saya harus mengulang ini, bahwa saya disini hanya ingin berdiskusi. tapi kenapa pertanyaan sy tdk pernah di jawab ?
        komentar awal saya sebenarx hanya mempertanyakan konsep ittihad dan hulul. Bukan malah lari ke nurul2…

        coba liat2 baik tulisan anda ini…
        Ittihad adalah satu tingkatan dalam Tasawuf ketika seorang Sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Saat itulah terjadi penyatuan antara yang mencintai dan yang dicintai. Dalam kondisi Ittihad seperti inilah satu sama lain dapat memanggil Ya Ana (wahai aku). Meskipun yang terlihat hanya satu wujud pada hakekatnya terdapat dua wujud yang berbeda.
        Adapun Hulul berarti menempati atau mengambil tempat. Dalam Tasawuf, Hulul berarti suatu keadaan (hal) yang dicapai seorang Sufi ketika aspek an-nasut (sifat kemanusiaan) Allah SWT bersatu dengan aspek al-Lahut (sifat ketuhanan) yang ada pada manusia. Hulul merupakan salah satu bentuk kebersatuan antara Allah SWT dan manusia. Kondisi ini dapat terjadi apabila manusia dapat mencapai Fana’ dengan menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan yang dimilikinya sehingga yang tersisa hanyalah sifat-sifat ketuhanannya

        pertanyaan saya…
        tentang ittihad, apakah kita harus percaya pada perasaan kita bahwa kita telah merasa menyatu dengan tuhan ? benarkah perasaan itu ? Pasti dan benarkah penyatuan itu ?
        apakah tuhan atau nabi pernah jelaskan hal ini ?
        bukankah itu hanyalah sangkaan perasaan, angan2, impian kosong kalau bukan kegilaan dan kebohongan belaka ?
        lalu berikutnya tentang hulul
        benarkah Allah mempunyai “sifat kemanusiaan” ?
        jika ada, sifat kemanusiaan yg mana yg di maksud ?
        tolong tunjukkan pada saya yang bodoh ini
        apakah sifat2 itu seperti lupa, lemah, keluh kesah ?
        sekali lagi tolong pencerahanx..
        karena jika tidak benar, berarti anda sudah ikut menulis dan mengatakan kebohongan tentang Allah !

        coba perhatikan ayat ini….
        Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.
        (QS. Al an am : 100)
        mengatakan bahwa allah mempunyai sifat manusia, allah bersatu dengan manusia sama saja dgn ayat diatas. sama2 bohong menurut Allah.
        naudzubillah,
        maha suci Allah dari sifat2 yg telah kita berikan padaNya.
        mudah2an tuhan mengampuni kebodohan dan kezaliman kita semua.

        Suka

      • tdk akan terjadi diskusi.. selama anda menggangap diri anda hebat dan org lain salah.. diskusi tdk akan tercapai jika batasan pemikiran anda sebatas yg terlihat saja dan sebatas yg anda pahami saja dan anda ingin berdiskusi tentang sesuatu yg tdk anda pahami.. jika anda ingin berdiskusi secara syariat.. diskusikanlah syariat,.. krn syariat itu adalah bagaimana mengatur kehidupan manusia secara duniawi.. sedangkan tarikat.. adalah bagaimana seseorang berjalan dan menemukan Allah dan bagai mana dia hidup dalam batiniahnya.. bagaimana mungkin bercerita tentang isi sebuah rumah.. jika anda tdk pernah msk kedalam rumah itu.. dan anda ingin berdiskusi dgn org yg telah sering keluar masuk rumah itu.. tp anda seakan2 jauh lebih tau isi rumah itu dibanding yg sering keluar masuk?? dan anda menyalahkan yg sering keluar msk rumah itu tentang letak2 isi rumah itu.. semoga retorika anda bs mengerti mksd perumpamaan yg aku berikan.. kalo tdk.. sebaiknya belajarlah dulu dari guru yg baik dan memahami ilmu tasawwuf baru kita berdiskusi soal tasawwuf.. baru bisa koneksi.. dan tolong anda cari sejarah hidup Al Hallaj.. jgn menuduh dgn ketidak tahuan anda.. yg anda hanya baca dan dengar saja dari mereka2 yg tdk tau persis siapa Al hallaj itu.. Dalam sejarahnya.. Al hallaj sdh menghafal 30 juz Alquran sejak umur 7 thn.. beliau belajar ilmu qalam dan ilmu fiqih serta ilmu falaq dari guru2 terkemuka di irak.. beliau adalah seorang alim yg terkemuka dimasa mudanya.. baik ibadahnya dan tdk pernah melakukan kebohongan.. dan didengar ucapan2nya.. beliau bernasab Maliki.. yg jelas beliau msh seorang Ahlul Bait ( keturunan yg terpelihara ) dari Rasulullah s.a.w.. demikian juga para waliyullah yg ada.. mereka masih keturunan Rasulullah.. baik dari syechk Masis.. Hasan Bisri.. Suryawardiyah.. Abdul Kadir Al Jaelany… Abu Hasan Asydzasili.. Asy Ari dan lain2.. jgnlah menuduh seseorang dgn kekejian tanpa tau apapun.. Hanya Allah yg Maha mengadili yg memastikan baik dan buruk.. selamat atau tdknya seseorang.. bukan anda atau aku.. manusia tdk memiliki hak untuk menghakimi apapun.. apalagi jika itu menyangkut Agama.. Al hallaj tdk pernah mengatakan akulah Tuhan dan sembahlah aku.. kita mengambil sedikit sebuah contoh.. anggaplah Al Hallaj itu berada dalam kegelapan yg pekat.. sehingga melihat tangannya saja beliau tidak mampu melihatnya.. pada saat itu kita tdk tau lagi yg mana kita dan yg mana kegelapan.. krn diri kita sdh diliputi oleh kegelapan.. yg ada hanya kegelapan.. yg tampak dan nyata adalah kegelapan.. diri kita tak tampak lagi.. demikianlah yg terjadi pada diri Al Hallaj.. ketika dia Fana kedalam Zat wajibul Wujudnya Allah.. dia tdk ada lg.. yg ada hanya Allah.. dia tdk lagi menemukan dirinya.. yg dia temukan hanya Allah semata2.. segala kembali kepada azaliya.. dimana pada awalnya yg ada hanya Allah.. tdk ada sesuatu apapun.. Hanya Allah.. Ana Alhaq kata Allah.. bkn kata Al Hallaj.. kita kembali kepada Hadist Kudsi ” bagi mereka itu Mulutku yg mereka gunakan berkata2.. dstnya.. yg salah kalo kita dalam keadaan biasa aja.. bkn dalam kefanaan musyahadah mengatakan Ana Alhaq.. walaupun itu juga dibenarkan saat anda membaca kalimat itu.. bkn berarti anda adalah AlHaq.. Al Hallaj juga mengatakan Ana AlHaq sebenarnya bukan pengertian Aku adalah Allah.. karena kalimat Al Haq.. berarti aku kebenaran Allah.. bkn Allah.. meskipun demikian.. aku tdk berfaham hulul atau ittihad.. sebenarnya kematian Al hallaj jg karna politik..

        Suka

      • Allah telah menjelaskan dalam Al-quran ” pada hari ini aku sempirnakan agamaku”
        jdi tidak ada penambahan dan pengurangan, semua telah di atur

        Suka

  2. coba baca ulang tulisan anda tentang konsep atau teori hulul pada tulisan akhlak kaum sufi paragraf 16. https://annafiz.wordpress.com/2014/02/02/ahklak-kaum-sufi/
    disitu anda menulis,
    “Tapi penyelewengan dalam dunia Sufi pun dapat saja terjadi seperti halnya al-Hallaj yang mengakuinya dirinya sebagai Allah, dengan teorinya wahdat al-wujud atau pantheisme (Penyatuan Wujud) dan teori al-Hulul atau penitisan (Penjelmaan Tuhan dalam diri Manusia). Perkataan dan perbuatan al-Hallaj ini membuat marah para ahli Kalam (Tauhid), Fiqh dan masyarakat Islam, sehingga ia di hukum mati pada tahun 309 H. ”
    selanjutnya anda juga menulis di pengertian hakikat
    Para ulama Syari’at dalam Islam memandang konsep ini bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu sebagaimana diketahui al-Hallaj mati dibunuh karena mempunyai faham Hulul dan seperti di Jawa Syekh Siti Jenar juga mengalami hal serupa. Kaum Sufi yang mempunyai faham ini kelihatannya merasa takut untuk membicarakan Ittihad, Hulul dan Tawhid. Karena itulah uraian tentang hal ini hanya dijumpai dalam karangan-karangan modern dan tulisan-tulisan para Orientalis.

    anda sudah mengetahui bahwa teori al hulul adalah sebuah penyimpangan dan bertentangan dengan islam tapi kenapa di tulisan diatas anda menuliskan lebih rinci lagi. bahkan mengatakan bahwa orang yang mencapai tingkatan ini disebut ahli hakikat dan baru abu yazid dan al hallaj yang sampai. disini anda secara tidak langsung menyatakan, mengajak dan membawa orang ke penyimpangan. karena setiap orang sufi pasti ingin mencapai tingkatan hakikat. untuk apa mencapai hakikat jika hakikatnya menyimpang ? sadarkah anda telah melakukan hal ini ?
    saya tidak akan mengomentari tulisan ini seandainya tulisan ini hanya bersifat informatif. tapi karena tulisan ini dapat mengarahkan kaum sufi dan umat islam ke arah penyimpangan (kembali), maka sudah menjadi kewajiban kita semua untuk saling mengingatkan dan menasehati.
    coba anda pikirkan, jika al hallaj yg mengatakan bahwa dirinya al haq anda katakan mencapai tingkatan hakikat. maka orang yang pertama mencapai tingkatan hakikat adalah Firaun, karena firaun adlh org yg pertama menyatakan diri sebagai tuhan. yg satu mencapainya karena kesombongan dan yang lainnya mungkin karena kebodohan. dan anda sudah tahu bagaimana nasib keduanya kan ?
    saya bahkan berkesimpulan bahwa anda adalah salah satu penganut paham ini, iya kan ? atau apa anda ingin mengatakan bahwa kemarahan ahli kalam, fiqh, ulama syariat dan masyarakat umum ini salah ? jika ya, segeralah bertobat wahai saudaraku…

    Suka

    • “ ketika engkau menulis koment ini, aku berdo’a kepada Allah SWT agar memasukanmu kedalam surga.
      “ aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena karenamu. Aku tidak ingin nasibku menjadi baik dengan kerugianmu, dan perhitungan amalmu menjadi buruk karena diriku.” jika km tdk mampu memahami tinggalkanlah.. perbaikilah amalan2 dan ibadahmu.. itu jauh lebih bernilai disisi Allah.. Firaun bukan mencapai hakikat.. tp menganggap dirinya tuhan krn kesombongannya.. Al hallaj menyatakan ma fi julba Illallah.. bukan menyatakan kalau dirinya adalah Tuhan ” ingat beliau tdk pernah menyatakan “aku adalah Tuhan”.. itu hanya pengertian dari org yg mendengar ucapan Beliau.. jgn samakan Firaun dgn Al-hallaj.. sampai hari ini belum ada manusia maupun sufi yg mampu mengimbangi ibadah beliau.. ahli qalam yg mana yg marah?? ahli syariat mana yg marah?? masyarakat umum mana yg marah? intinya.. perbanyaklah ibadah.. agar Allah mengangkat derajad kepada derajad yg lebih baik.. kita lihat kutipan ucapan seorang ahli syariat.. Dalam kitab Ta’yad Al-Haqiqtul ‘Aliyya hal. 57, salah seorang ulama Fiqh dan Ahli Tafsir Jalaluddin as-Suyuti mengatakan: “Tasawwuf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”.
      Sedangkan Al-Junaid seorang pimpinan tokoh Sufi Mazhab Moderat yang berasal dari Baghdad menyatakan tentang ilmu kesufian dalam syairnya: “Ilmu Sufi (Tasawwuf) adalah benar-benar ilmu, yang tidak seorang pun dapat memperolehnya; Kecuali dia yang dikarunia kecerdasan alami, dan berbakat untuk memahaminya. Tak seorang pun dapat berpura menjadi Sufi, kecuali dia yang melihat rahasia nuraninya.”
      berdebat bknlah hal yg baik.. lakukanlah apa yg baik bagi dirimu selama itu tdk keluar dari alquran dan hadist.. Cegalah dirimu dari api neraka..

      Apabila seorang salik menyaksikan ada orang yang sedang berbuat maksiat, janganlah ia mempunyai keyakinan bahwa maksiat tersebut dilakukan seterusnya. Namun, hendaknya ia berkata,… “Barangkali ia bertaubat pada saat tak dilihat orang…” atau “Barangkali maksiat tersebut tidak mengkhawatirkan karena mungkin Allah menolong ia di akhir hidupnya.” Seorang salik tidak boleh mempunyai prasangka buruk terhadap seseorang kecuali yang memang telah Allah tampakkan akhir kehidupannya.

      Para salik juga tak boleh berprasangka baik terhadap dirinya. Siapa yang memandang dirinya lebih baik dari orang lain, padahal ia belum mengetahui keadaannya dan keadaan orang tersebut di akhir hidupnya, berarti ia bodoh terhadap Allah, tertipu dan tidak memiliki kebaikan. Meskipun ia diberi pengetahuan, tetapi sebetulnya ia tidak diberi. Meremehkan ilmu yang hakiki berarti meremehkan Allah.

      Suka

    • ini Aku copas koment dari Sodari Rasya untuk anda.. jelas2 itu adalah sebuah konsep penjelasan dan pemikiran yg tdk digunakan oleh sebagian Ahli Tasawwuf.. bnr kata sodari Rasya.. retorika anda kurang.. coba baca koment Rasya untuk sodara ” Assalamu Alaikum wr wb, sblmnya sy sgt bertrima ksh atas apa yg sdh saudara lakukan,kitab addurrun nafiz yg sdh saudara beberkan ini, termasuk buku tasawwuf yg langka, saya sebagai seorang murid dr tarikat Qadiriyah sgt berterima ksh, sayangnya ilmu tasawwuf hanya bs difahami oleh mereka yg diberi Rahmat Allah saja,bagi mereka yg tdk dibuka kan Rahmat tdk akan bisa memahaminya, untuk saudara ahmad, sy berharap saudara bertanya kepada para ahli tasawwuf sebelum saudara memeri komen yg nota bene sama sekali tdk nyambung, saudara sebenarnya memperlihatkan kalau diri saudara tdk berilmu, bahkan pengetahuan syariat saudara kelihatan Nol, disini saudara kesannya memamerkan kebodohan saudara, sgt terlihat saudara mengatakan firaun memiliki hakikat yg tinggi sehingga menganggap dirinya Tuhan, dan menyamakan dgn Syeck Masyur Al Hallaj, yg notabene msh termasuk didalam ahlul Bait ( yakni turunan yg terjaga), firaun menyatakan dirinya tuhan krn ksmbngan dirinya, dan meminta rakyatnya menyembahnya sebagai Tuhan, Beliau Al hallaj, tdk pernah menyuruh org menyembahnya sebagai Tuhan, pernyataan Al Hallaj adalah pernyataan kpd dirinya sendiri, antara dia dgn Allah, ” LA ilaha Illa Ana ” adalah rangkain zikir yg selalu beliau lafazkan, dalam sejarah Al Hallaj tdk pernah mengaku dirinya adalah Tuhan, yg ada hanya ucapan beliau ketika fana fiz dzat.. dimana dia telah hilang yg ada hanya Allah, kita bs mengambil satu contoh saudara Ahmad, bagaimana jika saudara melihat satu ayat dalam Alquran yg berbunyi ” Anallah ” Akulah Allah, dan saudara membacanya? apakah berarti saudara mengatakan saudara adalah Allah?? , krn yg mengucapkan kalimat itu adalah saudara, ada hal lain yg saudara tdk ketahui dalam sejarah Al Hallaj, beliau dihukum pancung bukan karena ucapannya itu,tp karena politik yg terjadi saat itu, dan Beliau dihukum pancung bkn hanya sekali, tp 3x namun tak ada pisau apapun yg bisa melukai kulit beliau, sehingga pada Akhirnya beliau berkata ” Ya Allah, hari ini tibalah saatnya aku meninggalkan ragaku yg fana,yg telah menghalangiku untuk bersamamu” lalu beliau memerintahkan algojo untuk memenggal lehernya, sebelum itu beliau berpesan, ” setelah kepergianku, maka kalian akan mencari tiap huruf dari abu kitabku,untuk mendapatkan ilmu musyahadah.
      dan sejarah juga mencatat, tiap tetes darah Al Hallaj mengucapkan kalimat Tauhid ” Lailaha Illallah, demikian pula sungai Tigris tempat abu kitab Al hallaj di hanyutkan,bertasbih selama 7 hari 7 malam, Sehingga Sulthanul Auliyah Syeck Abdul Qadir Al Jaelany, ” Sekiranya aku hidup dijaman Syeck Mansur Al Hallaj, maka aku tdk akan membiarkan org memancungnya”
      sy juga ada melihat komen saudara Ahmad yg sgt menggelikan, sy tdk melihat satu tulisanpun didalam tulisan Kitab Addurrun Nafiz ini yg mengatakan Allah memiliki sifat manusia, yg benar adalah sifat manusia adalah milik Allah dan datang dari Allah, seperti Firman Allah ” akulah yg menciptakanmu dan aku pula yg menciptakan sifatmu, dari koment saudara Ahmad jls sekali tdk bisa membedakan Sifat dan qodrat, lapar,sakit,takut itu bukan sifat tp qodrati, sy jadi heran, dari mana saudara ahmad ini mengambil asumsi seperti itu? pernyataan sifat manusia adalah sifat Allah, bkn berarti Allah bersifat manusia, melainkan sifat manusia itu adalah milik Allah, ternyata retorika saudara jg rendah, bagaimana dgn kalimat kaki manusia adalah kaki Allah??, bagaimana dgn kalimat hadist kudsi ” Dengan MataKU mereka melihat dst “, manusia melihat dengan mata Allah, atau baitullah adalah rumah Allah, apa berarti Allah tinggal dalam baitullah Ka’bah?? , dan yg sangat mengherankan saudara ahmad ini kesannya memvonis, sayangnya dia memvonis berdasarkan pgntahuannya yg rendah, dia bertindak seperti Tuhan, yg memastikan sesuatu bnr dan salah, sy sarankan saudara ahmad belajar dan bertanya kepada ahlinya dulu, daripada saudara memperlihatkan kebodohan saudara disini, mungkin saudara merasa hebat, tp sejujurnya org2 yg datang ke web ini mentertawakan anda saudara AHMAD. walaupun sesungguhnya mereka mengerti anda seperti TONG KOSONG YANG NYARING BUNYINYA.

      Suka

      • Saudara rasya,….Saya datang kesini, sekali lagi hanya untuk saling memperingati dan membuka jalan diskusi. saya tidak pernah malu kalau kebodohan saya terlihat karena saya memang (akan selalu) bodoh. Saya justru berterimakasih kalau ada yang menunjukkan kebodohan saya. Saya justru hanya malu kalau saya ternyata bodoh tapi merasa pintar (dari Orang lain). saya juga tidak takut dengan tertawaan, celaan atau apapun itu karena itu sudah sunnatullah dalam saling memberi peringatan. Dan tugas saya hanya memberi peringatan. Saya berlindung kepada Allah dari sifat merasa lebih tinggi (baik itu ilmu, ibadah) dari orang lain karena itu sudah hampir mengikuti langkah syaitan yang merasa lebih tinggi dari adam.
        Saya akan mencoba menjawab pernyataan saudara Rasya tapi sebelumnya saya juga menyarankan kepada rasya (juga) untuk membaca dengan baik setiap kalimat dari komentar yang ada. Bahkan kalau perlu ulangi membaca tulisan annafis tentang Pengertian Hakikat, jangan hanya langsung membaca komentar yang membuat anda keburu emosi dan gregetan komentar balik. 
        Mengenai Firaun dan Al Hallaj, Saya tidak (pernah) menyamakan Firaun dan Al Hallaj sepenuhnya. Itu hanya perumpamaan dan pengandaian. Harusnya rasya membaca dengan baik komentar saya (coba deh baca ulang ). Perumpamaannya seperti ini. Pisang dan Pepaya tidak lah sama tapi ada suatu kesamaan dari keduanya sehingga keduanya di masukkan dalam dan dinamakan Buah Kan ? BukanKah Firaun dan Al Hallaj sama-sama mengatakan dan menganggap dirinya adalah tuhan ?! Bukankah Al Hallaj menyatakan bahwa dirinya Al Haq ?! bukankah Al Haq itu Allah ?
        Berikutnya
        Ini pernyataan dan contoh (yang sungguh lucu) dari saudara rasya “kita bs mengambil satu contoh saudara Ahmad, bagaimana jika saudara melihat satu ayat dalam Alquran yg berbunyi ” Anallah ” Akulah Allah, dan saudara membacanya? apakah berarti saudara mengatakan saudara adalah Allah?? , krn yg mengucapkan kalimat itu adalah saudara,”
        Kata “bagaimana” Disini jelas sekali memperlihatkan bahwa anda belum tahu atau mungkin lupa hakikat Alquran. Saudaraku, Alquran itu adalah Firman Tuhan. Jadi, ketika anda menemukan dan membaca ayat2 seperti itu raisya harus memposisikan diri bahwa anda sedang berdialog dengan Allah. Dan kata “ana” itu tetap tuhan yang berbicara. Jadi anallah itu tetap menunjuk dan seharusnya dikembalikan pada Tuhan. Tapi ini hanya khusus pada Alquran dan saat membacanya. Kalaupun anda yang menyebutnya itu karena anda yang membacanya. Itu hanya rekaman percakapan tuhan yang di abadikan dalam kitab agar manusia yang pelupa bisa selalu ingat akan firman tuhanNya. Bahwa di hadapan Rasya Ada Allah. Bahwa anda sedang berdua denganNya. (Ingat, Berdua ya..bukan bersatu) Rasya tampaknya lupa bahwa tuhan selalu bersamanya. Rasya selalu menganggap bahwa ketika dia membaca hanya ada dirinya sendiri saat itu. Ketika engkau membaca alquran terutama saat sholat, Bacalah ayat itu seolah-olah engkau melihat tuhanmu dan jika engkau tidak mampu melihatnya, Tidak perlu mencari-cari, cukup kembalikan pada keyakinan bahwa yakinlah Allah melihatmu.
        Berikutnya pernyataan rasya yang ini “sy juga ada melihat komen saudara Ahmad yg sgt menggelikan, sy tdk melihat satu tulisanpun didalam tulisan Kitab Addurrun Nafiz ini yg mengatakan Allah memiliki sifat manusia”
        Pernyataan rasya diatas menunjukkan bahwa rasya tidak membaca semua tulisan dengan baik. Anda memang mungkin tidak mendapati dalam kitab itu tapi coba cek dan baca ulang pada tulisan saudara annafis tentang pengertian Hakikat diatas utamanya pada bagian Hulul. Anda pasti menemukannya. Sekali lagi, tolong saudara rasya baca dengan teliti semua tulisan. Jangan asal komentar hanya karena terburu emosi Agar anda terhindar dari mengomentari hal2 yang sebenarnya tidak pernah tertulis dan termaksud. Membaca dengan teliti saja masih bisa salah memahami apalagi kalau tidak dibaca ?  sekali lagi baca yang tartil, jangan terburu nafsu dan emosi. agar anda benar2 bisa melihat yang mana hal2 menggelikan sesungguhnya atau mungkin sekalian terlihat yang mana TONG KOSONG PALING NYARING bunyinya !!! 

        Suka

  3. Buat saudara2…. Kebenaran hanya milik Allah, tidak penting kita berdebat apalagi saling menyalahkan….
    Kita ini bodoh, hanya Allah yang maha mengetahui….. Sebaiknya pasrahkan saja semua pada Allah, bereskan?
    Allah maha kuasa.
    Dan lebih baik lagi, yuk kita sama2 taubat dan mohon ampunan atas kesalahan, kebodohan, juga ketidak berdayaan kita….. yuk kita sama2 Sujud kepadaNya.

    Suka

  4. Assalamualaikum.ww.
    Apakah Seseorang yg tlah sampai pada tingkat ma’rifat tidak bisa lagi dikenakan hukm dosa? Karena dosa itu adalahh syariat! Krna tiada gerak melainkan gerak اَللّهُ. Mohon penjelasannya yang lebih terperinci, krna sejak beberapa bulan lalu saya amat sangat resah untuk mencri jawaban dr beberapa persoalan dlam jiwa ini.

    Suka

    • Hukum dosa tetap berlaku bagi ahli ma’rifat.. krn dosa adalah ” melanggar semua larangan Allah.. dan meninggalkan perintah Allah ” , jadi hukumnya tetap sama.. hanya saja bagi ahli ma’rifat.. tdk akan lagi melakukan dosa.. krn pengenalannya kepada hakikat Allah.. dan Allah telah menjaga nya dari pada terjerumus kedalam dosa.. ada hal yg berberbeda dalam hukum syariat dan ma’rifat.. dalam hukum syariat ada yg bernama subuhat.. tp dalam ma’rifat subuhat itu juga sdh dalam kategori dosa.. lupa kepada Allah saja sudah merupakan dosa bagi manusia ma’rifat..

      Suka

  5. Assalamu Alaikum wr wb, sblmnya sy sgt bertrima ksh atas apa yg sdh saudara lakukan,kitab addurrun nafiz yg sdh saudara beberkan ini, termasuk buku tasawwuf yg langka, saya sebagai seorang murid dr tarikat Qadiriyah sgt berterima ksh, sayangnya ilmu tasawwuf hanya bs difahami oleh mereka yg diberi Rahmat Allah saja,bagi mereka yg tdk dibuka kan Rahmat tdk akan bisa memahaminya, untuk saudara ahmad, sy berharap saudara bertanya kepada para ahli tasawwuf sebelum saudara memeri komen yg nota bene sama sekali tdk nyambung, saudara sebenarnya memperlihatkan kalau diri saudara tdk berilmu, bahkan pengetahuan syariat saudara kelihatan Nol, disini saudara kesannya memamerkan kebodohan saudara, sgt terlihat saudara mengatakan firaun memiliki hakikat yg tinggi sehingga menganggap dirinya Tuhan, dan menyamakan dgn Syeck Masyur Al Hallaj, yg notabene msh termasuk didalam ahlul Bait ( yakni turunan yg terjaga), firaun menyatakan dirinya tuhan krn ksmbngan dirinya, dan meminta rakyatnya menyembahnya sebagai Tuhan, Beliau Al hallaj, tdk pernah menyuruh org menyembahnya sebagai Tuhan, pernyataan Al Hallaj adalah pernyataan kpd dirinya sendiri, antara dia dgn Allah, ” LA ilaha Illa Ana ” adalah rangkain zikir yg selalu beliau lafazkan, dalam sejarah Al Hallaj tdk pernah mengaku dirinya adalah Tuhan, yg ada hanya ucapan beliau ketika fana fiz dzat.. dimana dia telah hilang yg ada hanya Allah, kita bs mengambil satu contoh saudara Ahmad, bagaimana jika saudara melihat satu ayat dalam Alquran yg berbunyi ” Anallah ” Akulah Allah, dan saudara membacanya? apakah berarti saudara mengatakan saudara adalah Allah?? , krn yg mengucapkan kalimat itu adalah saudara, ada hal lain yg saudara tdk ketahui dalam sejarah Al Hallaj, beliau dihukum pancung bukan karena ucapannya itu,tp karena politik yg terjadi saat itu, dan Beliau dihukum pancung bkn hanya sekali, tp 3x namun tak ada pisau apapun yg bisa melukai kulit beliau, sehingga pada Akhirnya beliau berkata ” Ya Allah, hari ini tibalah saatnya aku meninggalkan ragaku yg fana,yg telah menghalangiku untuk bersamamu” lalu beliau memerintahkan algojo untuk memenggal lehernya, sebelum itu beliau berpesan, ” setelah kepergianku, maka kalian akan mencari tiap huruf dari abu kitabku,untuk mendapatkan ilmu musyahadah.
    dan sejarah juga mencatat, tiap tetes darah Al Hallaj mengucapkan kalimat Tauhid ” Lailaha Illallah, demikian pula sungai Tigris tempat abu kitab Al hallaj di hanyutkan,bertasbih selama 7 hari 7 malam, Sehingga Sulthanul Auliyah Syeck Abdul Qadir Al Jaelany, ” Sekiranya aku hidup dijaman Syeck Mansur Al Hallaj, maka aku tdk akan membiarkan org memancungnya”
    sy juga ada melihat komen saudara Ahmad yg sgt menggelikan, sy tdk melihat satu tulisanpun didalam tulisan Kitab Addurrun Nafiz ini yg mengatakan Allah memiliki sifat manusia, yg benar adalah sifat manusia adalah milik Allah dan datang dari Allah, seperti Firman Allah ” akulah yg menciptakanmu dan aku pula yg menciptakan sifatmu, dari koment saudara Ahmad jls sekali tdk bisa membedakan Sifat dan qodrat, lapar,sakit,takut itu bukan sifat tp qodrati, sy jadi heran, dari mana saudara ahmad ini mengambil asumsi seperti itu? pernyataan sifat manusia adalah sifat Allah, bkn berarti Allah bersifat manusia, melainkan sifat manusia itu adalah milik Allah, ternyata retorika saudara jg rendah, bagaimana dgn kalimat kaki manusia adalah kaki Allah??, bagaimana dgn kalimat hadist kudsi ” Dengan MataKU mereka melihat dst “, manusia melihat dengan mata Allah, atau baitullah adalah rumah Allah, apa berarti Allah tinggal dalam baitullah Ka’bah?? , dan yg sangat mengherankan saudara ahmad ini kesannya memvonis, sayangnya dia memvonis berdasarkan pgntahuannya yg rendah, dia bertindak seperti Tuhan, yg memastikan sesuatu bnr dan salah, sy sarankan saudara ahmad belajar dan bertanya kepada ahlinya dulu, daripada saudara memperlihatkan kebodohan saudara disini, mungkin saudara merasa hebat, tp sejujurnya org2 yg datang ke web ini mentertawakan anda saudara AHMAD. walaupun sesungguhnya mereka mengerti anda seperti TONG KOSONG YANG NYARING BUNYINYA.

    Suka

    • Saudara rasya,….Saya datang kesini, sekali lagi hanya untuk saling memperingati dan membuka jalan diskusi. saya tidak pernah malu kalau kebodohan saya terlihat karena saya memang (akan selalu) bodoh. Saya justru berterimakasih kalau ada yang menunjukkan kebodohan saya. Saya justru hanya malu kalau saya ternyata bodoh tapi merasa pintar (dari Orang lain). saya juga tidak takut dengan tertawaan, celaan atau apapun itu karena itu sudah sunnatullah dalam saling memberi peringatan. Dan tugas saya hanya memberi peringatan. Saya berlindung kepada Allah dari sifat merasa lebih tinggi (baik itu ilmu, ibadah) dari orang lain karena itu sudah hampir mengikuti langkah syaitan yang merasa lebih tinggi dari adam.
      Saya akan mencoba menjawab pernyataan saudara Rasya tapi sebelumnya saya juga menyarankan kepada rasya (juga) untuk membaca dengan baik setiap kalimat dari komentar yang ada. Bahkan kalau perlu ulangi membaca tulisan annafis tentang Pengertian Hakikat, jangan hanya langsung membaca komentar yang membuat anda keburu emosi dan gregetan komentar balik. 
      Mengenai Firaun dan Al Hallaj, Saya tidak (pernah) menyamakan Firaun dan Al Hallaj sepenuhnya. Itu hanya perumpamaan dan pengandaian. Harusnya rasya membaca dengan baik komentar saya (coba deh baca ulang ). Perumpamaannya seperti ini. Pisang dan Pepaya tidak lah sama tapi ada suatu kesamaan dari keduanya sehingga keduanya di masukkan dalam dan dinamakan Buah Kan ? BukanKah Firaun dan Al Hallaj sama-sama mengatakan dan menganggap dirinya adalah tuhan ?! Bukankah Al Hallaj menyatakan bahwa dirinya Al Haq ?! bukankah Al Haq itu Allah ?
      Berikutnya
      Ini pernyataan dan contoh (yang sungguh lucu) dari saudara rasya “kita bs mengambil satu contoh saudara Ahmad, bagaimana jika saudara melihat satu ayat dalam Alquran yg berbunyi ” Anallah ” Akulah Allah, dan saudara membacanya? apakah berarti saudara mengatakan saudara adalah Allah?? , krn yg mengucapkan kalimat itu adalah saudara,”
      Kata “bagaimana” Disini jelas sekali memperlihatkan bahwa anda belum tahu atau mungkin lupa hakikat Alquran. Saudaraku, Alquran itu adalah Firman Tuhan. Jadi, ketika anda menemukan dan membaca ayat2 seperti itu raisya harus memposisikan diri bahwa anda sedang berdialog dengan Allah. Dan kata “ana” itu tetap tuhan yang berbicara. Jadi anallah itu tetap menunjuk dan seharusnya dikembalikan pada Tuhan. Tapi ini hanya khusus pada Alquran dan saat membacanya. Kalaupun anda yang menyebutnya itu karena anda yang membacanya. Itu hanya rekaman percakapan tuhan yang di abadikan dalam kitab agar manusia yang pelupa bisa selalu ingat akan firman tuhanNya. Bahwa di hadapan Rasya Ada Allah. Bahwa anda sedang berdua denganNya. (Ingat, Berdua ya..bukan bersatu) Rasya tampaknya lupa bahwa tuhan selalu bersamanya. Rasya selalu menganggap bahwa ketika dia membaca hanya ada dirinya sendiri saat itu. Ketika engkau membaca alquran terutama saat sholat, Bacalah ayat itu seolah-olah engkau melihat tuhanmu dan jika engkau tidak mampu melihatnya, Tidak perlu mencari-cari, cukup kembalikan pada keyakinan bahwa yakinlah Allah melihatmu.
      Berikutnya pernyataan rasya yang ini “sy juga ada melihat komen saudara Ahmad yg sgt menggelikan, sy tdk melihat satu tulisanpun didalam tulisan Kitab Addurrun Nafiz ini yg mengatakan Allah memiliki sifat manusia”
      Pernyataan rasya diatas menunjukkan bahwa rasya tidak membaca semua tulisan dengan baik. Anda memang mungkin tidak mendapati dalam kitab itu tapi coba cek dan baca ulang pada tulisan saudara annafis tentang pengertian Hakikat diatas utamanya pada bagian Hulul. Anda pasti menemukannya. Sekali lagi, tolong saudara rasya baca dengan teliti semua tulisan. Jangan asal komentar hanya karena terburu emosi Agar anda terhindar dari mengomentari hal2 yang sebenarnya tidak pernah tertulis dan termaksud. Membaca dengan teliti saja masih bisa salah memahami apalagi kalau tidak dibaca ?  sekali lagi baca yang tartil, jangan terburu nafsu dan emosi. agar anda benar2 bisa melihat yang mana hal2 menggelikan sesungguhnya atau mungkin sekalian terlihat yang mana TONG KOSONG PALING NYARING bunyinya !!! 

      Suka

  6. Assalamualaikum …orang yg suda ma’rifat , didalam dadanya diberi ALFURQON [pembeda] jd orang yg suda ma’rifat suda bisa membedakan apa yg bole dikerjakan dan yg tidak boleh dikerjakan oleh ALLAH [kebenaran &kesalahan].

    Suka

    • Wa Alaikum Salam wr.wb.. Syariat mengajarkan menjauhi larangan dan mentaati perintah sesuai dengan hukum2 aqidah dan hukum2 syarah.. sedangkan ma’rifat mengajarkan knp larangan itu diturunkan dan perintah itu diwajibkan.. serta melaksanakannya dgn penuh kecintaan sebagai hamba.. bukan karna surga ataupun pahala.. secara syariat juga.. kita bisa membedakan.. mana yg benar dan yg mana yg salah.. mana yg bisa dikerjakan maupun yg tdk bisa dikerjakan sesuai dengan hukum sar’i.. jadi sebenarnya sama.. hanya ma’rifat mengenal si Pemberi Perintah dan si Pemberi Larangan.. serta menerima segala ketentuan2 dari Sang Pembawa keduanya Yakni Allah..

      Suka

      • Saudara an nafis yg di rahmati dan di muliakan allah swt.saran sy g ush di jelaskan lgi pd saudara ahmad yg ska adu argument.diamkan saja.doa kan saja dia agr di beri hidayah dan taufiq nya.al quran jls menyebutkan.di nasehati dan tidak di nasehati bagi mereka sama saja….bgi kita org tasawwuf semua nya kmbli pd hati…krn kita tdk prnh mengedepankan nafsu.maka nya kita jgn teroncing oleh nafsu.rosulullah sndri akhlak nya luar biasa.lembut terhadap sesama keras trhdp kafir.skrg lht lh dunia skrg.lembut terhdp kafir saling serang sesama muslim…..buat sdra ku an nafis biarkn saja mrka mw blg apa krn kita hrs sadar memang segitunya pemahaman mereka.doa kan sajalah itu lbh baik.

        Suka

  7. kalau memang anda berani harusnya setiap komentar yang ada tidak dihapus. bukankah setiap orang beriman tidak ada lagi rasa takut selain rasa takut kepada penciptanya ?
    kenapa anda menghapus komen2 kami, apa yang anda takutkan ?

    Untuk saudara annafis pernyataan anda pada komentar 17 mei 2014 pukul 1.18 pm.
    Disitu annafis menulis
    “siapa yg mejelaskan Al ihtihad?? siapa yg mengatakan Allah memiliki sifat kemanusiaan??.. Astagfirullah.. yg benar adalah manusia memiliki sifat ketuhanan?? Al ihktihad bkn pemahaman saya..”
    Saya ingin bertanya, apakah saudara annafis adalah pengasuh sekaligus penulis dari artikel2 di blog ini terutama tulisan tentang “pengertian Hakikat” ? Jika iya, berarti anda lupa bahwa pada artikel pengertian Hakikat anda dengan jelas menulis pengertian al ittihad. Dan Disitu juga anda menulis tentang hulul yang menyatakan bahwa tuhan mempunyai sifat kemanusiaan (an nasut).
    Jadi, saran saya tolong setiap tulisan dipertanggungjawabkan bukan hanya sekedar ditulis kemudian dilupakan begitu saja.
    Berikutnya pernyataan anda pada komentar 19 mei 2014 pukul 5.55 pm
    “tdk akan terjadi diskusi.. selama anda menggangap diri anda hebat dan org lain salah.”
    Diskusi tidak terjadi sebenarnya bukan karena hal itu. Saya tidak pernah menganggap bahwa saya lebih hebat dari siapapun. Mungkin saudara annafis masih ingat, (meski komentar itu sudah dihapus saudara annafis) ketika itu saudara annafis mengatakan bahwa saya ini seolah2 adalah murid smp yang mencoba mendebat annafis yang sudah mahasiswa. Disitu saya menyatakan, jangankan smp dianggap bayi pun tidak masalah. Karena saya hadir untuk saling memperingatkan. Diskusi tidak terjadi karena anda tidak pernah menanggapi pertanyaan2 saya. Anda malah sibuk menanggapi hal2 pribadi dan bersifat emosional seperti masalah ibadah saya dsb. Bukankah agama kita mengajarkan untuk saling mendebat dengan baik ? mendebat dengan hikmah ? dan setiap pertanyaan ilmiah harusnya dijawab ilmiah pula bukan malah beralih ke Hal2 pribadi sang penanya.
    Ini adalah kutipan Pernyataan berikutnya dari saudara Annafis (sebuah perumpamaan yang lucu)
    “bagaimana mungkin bercerita tentang isi sebuah rumah.. jika anda tdk pernah msk kedalam rumah itu.. dan anda ingin berdiskusi dgn org yg telah sering keluar masuk rumah itu.. tp anda seakan2 jauh lebih tau isi rumah itu dibanding yg sering keluar masuk?? dan anda menyalahkan yg sering keluar msk rumah itu tentang letak2 isi rumah itu.. semoga retorika anda bs mengerti mksd perumpamaan yg aku berikan..”
    jawabannya mudah sekali.
    Pikiran anda masih terlalu sempit jika menganggap bahwa satu2nya cara untuk mengetahui isi sebuah rumah kita harus keluar masuk rumah itu. Coba anda pikirkan, Tidak seperti anda yang mungkin sudah keringatan karena bolak balik rumah itu, lalu tiba2 ada tamu atau orang baru yang tidak perlu repot2 keluar masuk rumah itu untuk mengetahui isi dan tata letak rumah itu karena tiba2 juga pemilik alias TU(H)AN rumah berbaik hati, secara langsung memberikan informasi isi dan tata letak rumahnya. Baik itu dengan menceritakan langsung, memberikan rekaman CCTV atau memberikan gambar denah dan tata letak rumah itu
    Saya juga akan memberikan anda perumpamaan dan mudah2an anda juga bisa memahaminya. Sebuah perumpamaan antara Tukang Kayu dan Arsitek. Tukang Kayu memang tidak pernah membaca buku, belajar ilmu ini dan ilmu itu , keluar masuk kampus dan meraih gelar sebagaimana sarjana arsitek tapi dalam hal menyambung dua kayu, tidak pernah ada jaminan bahwa si sarjana melakukan hal itu lebih baik dari si tukang kayu ! 

    Suka

    • Assalamualaikum. Mudah2an Allah memberikan kita hidayah dan pengetahuan.Amin.
      Sy yakin saudara annafis mempunyai niat baik.jadi kalaupun ada yang tidak sefaham dengan beliau silahkan tinggalkan dan jangan menyalahkannya. Kalaupun dalam tulisan beliau ada kesalahan mudah mudahan Allah meluruskan dan memaafkan beliau.jadi tidak perlu menyalahkannya.

      Suka

  8. ilmu tasyawwuf adalah pondasi atau jalan menuju pengenalan diri yg sebenarnya diri,kenal siapa diri maka kenal akan allah,berdebat boleh tp lebih baik pelajarilah terlebih dahulu!,karna jika kita tak faham yg ada hanya pertengkaran.(salam kenal dr ku)

    Suka

  9. Nggak apa apa aan disini…bukan saja ada ana alhaqq…ana yg satu pun ada…ana yg penakluk pun ada….ana yg memiliki pun ada..apa kecoh kecohan disini…kita ini kalau di bandingkan dengan alam semesta ini lebih dari atom…apa apaan mau bising dong…..
    syariat – alquran yg tertulis
    tariqat – alquran yg tersirat
    hakikat – alquran yg tersembunyi
    makrifat – ketiga tiganya dibuka serentak..gitu..

    Suka

  10. Ilmu tasawwuf (menegenal Allah) mempunyai 7 pintu. Pintu pertama adalah mengosongkan hati dengan sifat sombong atau dengan kata lain merendahkan diri daripada manusia lain. Maksudnya selagi kita merasakan diri atau ilmu kita adalah benar. Maksudnya pintu pertama tak akan terbuka. Jadi lah kita penjaga pintu . Amin…

    Suka

    • Bukankah sebuah kesombongan juga jika selalu menganggap bahwa seseorang yg telah belajar tasawuf aplg telah sampai pd tingkat hakikat akan selalu lebih tinggi maqomx dr orang2 biasa (syariat) ?

      Suka

    • Prinsip yang sangat bagus…
      Sangat bagus bagi binatang.
      Manusia tidak seperti itu
      Manusia mampu mengetahui sesuatu tanpa perlu merasakan
      Dengan kemampuan inilah hingga manusia beda dengan binatang
      Dengan anugerah pembelajar inilah hingga manusia tidak perlu mengulangi kesalahan orang🙂

      Suka

  11. Kita tidak perlu saling menyalahkan karena saling membenarkan apa yang kita pahami tapi mari kita tingkatkan pengetahuan dan pemaham kita. tugas berat yang ada didepan kita adalah bagaima cara kita agar pemahaman syareat dan pemahaman hakiki bisa saling melengkapi bukan menjadi pertentangan tks semoga sama dirahmati Allah Amin wassalam

    Suka

  12. assalamualaikum wr.wb bang bafiz komentar ahmad di blog ini adalah komentar syariat saja… dia tidak pernah belajar ketauhidan sehingga segala yg dikomen bertentanggan semua dgn tulisan diblog. guru saya juga seorang tarikat naqsabandiyah…. dan apa saja yg diceritakan diblog ini semuanya benar.. adanya karna tingkatan yg sudah fana baqo dia sdh tidak tau siapa dia yg hanya ada sifat lah yg menyembah zat sehingga melakukan semua pekerjaan bkn dia tapi sdh allah yg mengerjakan…. tubuh ini cma sebatas kuda pendaki bukit.. biduk pelayang laut…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s