Alam dan Zat Allah s.w.t


Alam dan Zat Allah s.w.t.

Untuk pembahasan ini perlu rasanya dijelaskan istilah dan pengertian sekedarnya, meskipun penjelasan penjelasan yang ada sebenarnya sudah cukup memadai .

Alam yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah sesuatu yang lain daripada Allah, yang diadakan atau yang diciptakan, umumnya juga dikatakan dengan “aghyar”. Jadi jelas sekali bahwa “alam” bukanlah Zat Allah.

Dari sinilah sebenarnya patokan kita untuk memahami setiap masalah yang menyangkut Tasawuf yang membicarakan tentang Ketuhanan.

Didalam pembahasan ini ada kata kata sebagai berikut :

  1. Alam Nuskhatul Haqqi = Alam adalah naskah Tuhan
  2. Alam Cermin Tuhan = Dalam istilah Alam Mir’atul Haqqi.
  3. Alam Mazhar Wujudullah = Alam,pembuktian ujud Allah.
  4. Alam Ainul Haqqi = Alam adalah kenyataan Tuhan.

Kata-kata yang seperti ini tidak bisa hanya dilihat dan dibaca menurut bunyi kata-kata itu semata-mata (leterjik), sehingga aosiasi tertuju kepada arti dari kat-kata. Kata-kata dan ungkapan dari kalangan Sufi pada umumnya adalah berupa rumus-rumus, gambaran-gambran sebagai pelampiasan kata hati dan perasaan.

Sebagimana kita maklum, bahwa kata-kata adalah suatu alat komunikasi antara satu pihak dengan pihak yang lainsehingga terjadi hubungan pengertian dari kedua belah pihak.

Dapat pula dimengerti, bahwa kata-kata itu sendiri dapat pula menimbulkan perkiraan yang salah terhadap mereka yang melahirkan kata-kata itu.

Akan tetapi bila kita kembali kepada suatu ungkapan bahwa kata-kta hanyalah sekedar isyarat dan gambaran belaka, lebih lagi bila kata-kata itu ada hubungannya dengan perasaan, maka seharusnya tidaklah perlu ada prasangka buruk (negatif) terhadap mereka yang melahirkan kata-kata dan ucapan itu.

Lebih ngeri lagi kalau kita bandingkan dngan sebuah sabda Rasulullah s.a.w.

” Khalaqa Aadama Kashuuratihi ”

Artinya : Allah Ciptakan Adam seperti rupaNya

Kata-kata demikian ini sukar untuk menolaknya, lebih bila di ingat datang dari lidah Rasullah sendiri yang di riwayatkan oleh Imam Hadist terkenal ketelitiannya dalam merawih hadist.

Sabda Rasulullah itu tetap akan kita terima dan kita yakini, namun pasti ada pengertian yang lebih mendalam dibalik Lafaz dan kata-kata tersebut.

Begitu pula Hadist Rasulullah berupa Hadist Kudsi yang mana Allah berfirman :

” Aku jadi penglihatannya, Aku jadi kakinya, Tangannya dan seterusnya dan sebagainya

Alangkah hebatnya kata-kata itu.

Adakah yang bertanya dan membantah?

Kenapa Allah mau jadi tangan dan kaki hamba?

Dan kenapa jadi begitu?

Tidak ada tanya dan bantah.

Masya Allah hebat sekali.

Kalau demikian,apakah salahnya Ahlul Arifin Billah melahirkan kata-kata gambaran diatas? Kalau mereka nyata-nyata tenggelam dalam lautan “rasa” akhirnya mereka tidak dapat berkata, bingung, nanar, dan sasar, apakah ini harus dipersalahkan pula?

Apabila mereka berkata tak dapat lagi membedakan antra hamba dengan Tuhan, apakah tepat bila kita secara langsung menuduh mereka ” mempersamakan hamba dengan Tuhan?”

Tuduhan demikian adalah keliru.

Apakah sebabnya? Jawabnya mudah saja. Tidak ada seorang hambapun yang dahulunya dapat membedakan antara hamba dengan Tuhan kecuali asalnya Allah sendiri. Para Rasulpun tidak. Para Rasul hanya menyampaikan apa-apa yang di firmankan Allah kepada mereka.

Tidak ada seorang manusiapun tadinya yang mengetahui bahwa Allah itu hidup dan sebagainya, semua itu adalah pemberitahuan Allah.

Setelah Allah memberi tahu semua itu melewati Para Rasul dan Nabi, barulah manusia ini tahu keadaan Allah s.w.t. dan barulah manusia dapat membedakan antara hamba dengan Tuhan.

Karena pembicaraan ini menyangkut masalah Hakekat dan yang sebenar benarnya, maka pantas kalau mereka berkata dengan kata-kata tersebut itu.

Oleh sebab itu, maka diharapkan jangn sampai ada tuduhan yang mengerikan kepada mereka (Arif Billah) yang hanya dengan kata-kata nuskhatul haqqi, ainul haqqi, atau mir’atul haqqi lalu langsung menuduh mereka berfaham sesat atau dengan lain perkataan berupa gelar-gelar yang cukup menyinggung perasaan, malah hanya membawa perpecahan dan pemisahan yang tajam di dalam Ummat Islam sendiri.

Untuk menjaga kemurnian dan kelanggengan ajaran Islam memang seharusnya kita berusaha mempertahankan kebenaran Islam. Menolak ajaran yang nyata kekafirannya, nyata pula kesesatannya, penolakan ini tergantung dengan kekuatan Da’wah sampai dimana kita bisa memikat dengan mengemukakan cara berfikir yang benar dan sehat sebagai yang diajarkan oleh Allah sendiri :

” Ud’u Ila Sabiili Rabbika Bil Hiikmati Wal Mau Iazhotil Haasanati Wajaadilhum Billatii Hia Aahsanu ”

Arinya :

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasehat yang baik dan bantalah keterangan mereka dengan cara yang baik.

Metoda yang demikian saya kira tidaklah berarti merusakkan kerukunan beragama dalam Negar Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Mengembalikan Tasawuf kepangkalnya, sebagaimana anjuran Buya Prof. Dr. Hamka pada pidato Dies Natalis PTAIN di Jogjakata tahun 1959 merupakan suatu anjuran yang beralasan, mengingat banyaknya gerakan kebatinan yang tumbuh laksana cendawan di musim hujan, tidak sedikit diantaranya yang lepas dari dasar-dasar Iman sepanjang ajaran Islam.

Saya beranggapan dan berharap bahwa dengan penyempurnaan Tulisan ini, kita kaum Muslimin yang berpegang teguh pendirian Ahlus-Sunnah Wal Jamaah masih tetap mempunyai kekuatan dan senjata ampuh ialah “Doa” dan harap kepada Allah s.w.t. agar tetap memelihara keagungan Agama Islam dimanapun juga serta memelihara Agama Islam dan Kaum Muslimin dari segala cobaan-cobaan.

Kita tetap menginginkan peratun bangsa dan keutuhan Negara Republik Indonesia yang kita intai ini sesuai engan azas Pancasila, dengan adanya suatu jaminan untuk tidak membiarkan tumbuhnya bermacam-macam kepercayaan dan iktikad yang memanggil-manggil orang-orang Muslim agar mengikuti ajaran mereka, dimana akhirnya selembar demi selembar daun-daun Muslim beterbangan dari pohonnya.

Berpanjang kata tentang salah ini, hnya dengan suatu maksud agar Kaum Muslimin dan Ulama Islam yang ada kini, tidak begitu mudah melontarkan kata-kata, mengucilkan sesama umat yang bernabikan Muhammad s.a.w. dan berkitab sucikan Al Qur’an, umat yang masih percaya kepada hari kebangkitan, karena dengan demikian akan menghancurkan barisan Umat Islam sendiri pada akhirnya.

  • Pengertian Kalimat “Nuskhatul Haqqi”

Sebagaimana dijelaskan pada bagian muka naskah ketuhanan, karena alam ini adalah laksana naskah atau kitab yang semuanya dapat dibaca dan dipelajari untuk mencari kebenaran hakiki ialah Allah s.w.t.

Allah banyak sekali berfirman dan berseru kepada manusia yang berakal agar membaca dan mempelajarinya, karena apapun yang terpampang dipermukaan alam ini adalah “ayat-ayat” yang harus difikirkan, Kumpulan ayat-ayat itu dapat pula dikatakan suatu naskah atau kitab.

Ibnu Athoillah r.a mengungkapkan dalam rangka membaca semua ini, janganlah laksana seekor sapi yang bekerja menggiling padi di penggilingan, karena bagaimanapun tidak akan sampai kepada titik tujuan yang sebenarnya.

Seorang manusia berfikir : Hidup perlu Kerja, Kerja perlu Makan, Makan untuk tambah Tenaga, Tenaga untuk dapat Kerja, Kerja Untuk Makan dan seterusnya… dan seterusnya… Atau saling menyalahkan dan membenarkan pendapat sendiri.. ini benar itu salah.. hadist ini doif itu shahih.. demikian seterusnya tidak berujung.. Akhirnya hanya laksana bulatan (sirkel) yang terus menerus berputar dalam lingkaran itu saja, tidak bedanya dengan se ekor sapi di penggilingan padi.

Kapan waktunya dia mencari kebenaran hakiki? Kalau dia tetap disibukkan dalam suatu sirkulasi demikian, kenapa dia tidak mau membaca naskah berupa dirinya dalam alam ini?.

Apabila seseorang mau menggunakan waktu untuk membaca naskah dirinya dan alam ini, dia pasti akan sampai kepada tujuan hidup yang sebenarnya, akan dapat mengenal dengan pengenalan sempurna kepada Maha Pencipta Naskah yang berupa dirinya dan Alam.

Maka misal dan ungkapan bahwa alam ini adalah Naskah Ketuhanan sebenarnya dapat kita terima.

  • Pengertian kata “Cermin Tuhan”

Pada umumnya kita menyebut kata-kata cermin hanyalah dalam arti kata pinjaman. Untuk mengenal keadaan tubuh kita, sudah rapi atau belum, apa dan bagaimana rupa dan bentuk mata, sipit ataukah tidak, kita ingin tahu lidah atau gigi, hal mana tidak dapat dilihat langsung oleh mata, umumnya semua itu kita pergunakan cermin.

Tetapi mata yang terlihat dalam cermin, gigi dan lidah hanyalah sekedar bayangan, bukan keadaan yang sebenarnya.

Tiap-tiap yang bernama bayangan tidak mungkin dapat dipegang, kita hanya menemukan suatu permukaan yang rata dari kaca cermin.

Alam adalah Cermin Tuhan, karena “diri” atau Kunhi Zat (keadaan Diri) Allah s.w.t. tidak bisa dilihat oleh mata kepala ini. Yang dapat dilihat dengan mata kepala hanyalah Alam dan segala peristiwa yang terjadi di dalam Alam.

Alam ini dapat dimisalkan Cermin Tuhan untuk setidak tidaknya dapat melihat “bayangan Tuhan di dalam cermin” namun apa yang terpampang di dalam cermin bukanlah dia Tuhan yang kita cari.

Maha sucilah Allah dari pada mempunyai bayangan.

Menurut ungkapan dikalangan Sufi, alam ini adalah dua macam. Pertama Alam Kabir dan kedua Alam Shoghir. Alam Kabir atau alam besar ialah alam semesta ini, sedangkan Alam Shoghir atau alam kecil adalah diri manusia ini sendiri.

Kalangan Ahli Filsafat menyebutkan Mikro Kosmos (kecil) dan Makro Kosmos (besar) Alam kecil ini adalah sebagai bayangan Alam Besar karena hampir seluruh macam dan jenis Alam Besar tergambar dan terbayang pada diri manusia.

Tanah, Air, Api dan Udara merupakan unsur-unsur yang ada pada alam besar yang smuanya terbayang pada diri manusia, tumbuh-tumbuhan, dan binatang, langit an bumi juga ada bayangannya dan gambarannya pada diri manusia kita ini. Tetapi yang jelas, diri manusia bukanlah alam semesta dan alam semesta bukanlah diri manusia. Ungkapan akal ini boleh dan dapat diterima menurut pendapat akal sehat.

Diri manusia dikatakan oleh Allah adalah KhalifahNya di muka bumi, yang menurut arti bahasa adalah ” PenggantiNya” di muka bumi ini. Tapi haruslah di ingat bahwa manusia bukanlah Tuhan di muka Bumi.

” Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rabbahu”

Artinya :

” Siapa yang mengenal dirinya, pasti dia dapat mengenal TuhanNya”

Hadist Rasulullah ini sebagai patokan dasar makrifat kepada Allah s.w.t.

Dari ungkapan ini kita dapat merumuskan dengan suatu rangkain.

Insan – Alam – Tuhan.

Insan adalah bayangan dan cermin Alam, Alam juga merupakan bayangan dan cermin Tuhan. Tetapi Insan dan Alam adalah “Maujud” (diadakan) sedang Allah adalah Zat Wajibul Wujud.

Insan dan Alam yang kita lihat bukanlah rupa dan bentuknya, tetapi kita melihat “adanya” Adanya Insan dan Alam adalah “fana” didalam lautan Wujudullah.

Adanya Insan dan Alam hanyalah sekedar “majas” semata.

“Wujud yang Hak adalah Wujud Allah”

Akhirnya nyatalah dan kita dapat menerima ungkapan kata Alam Adalah Cermin Tuhan.

  • Pengertian kata “Ainul Hak” (kenyataan Tuhan)

Insan “ainul Hakki atau alam Ainul Hakki” kata-kata inilah yang menghebohkan, sehingga timbul tuduhan buruk kepada mereka. Sepanjang kita kaji, tidak ada yang berkata misalnya “al insan Huwallah” atau “Al alam Huwallah” (manusia atau alam itu Allah) atau kata-kata “Insan atau alam sama dengan Allah” tidak ada kata-kata demikian yang lahir dari mulut Sufi yang benar.

Kalimat atau kata-kata yang nyata dari mereka ialah “Insan / Alam Ainul Hakki”

Ibnu Araby berkata :

” Al Abdu Rabbun, Warrabbu Abdun.

Ya Laita Syi’ri, Manil Mukallaf ?

Ya Laita Syi’ri, Manil Mukallaf ?

In Qulta – Abdun Fadzaka Rabbun.

Aw Qulta Rabbun – Anna Yukallaf ? ”

Artinya :

” Hamba Adalah Tuhan, Tuhan Adalah Hamba, betapa syu’urku. Siapakah yang dibebani?, kalau anda berkata Hamba, maka itulah Tuhan, atau anda Tuhan, betapakah dia dibebani? ”

Maka rangkuman kata dari Ibnu Araby ini merupakan sajak/puisi. Puisi suatu ungkapan kata menggambarkan cetusan perasaan seorang pengarang. Diterima atau tidak oleh orang lain bukanlah soal yang penting, namun ia merasa puas dengan apa yang ia ungkapkan dalam bentuk puisi ini, yang mengambarkan kebingungannya sendiri (tahayyur)

Oleh sajak itu terlihat jelas tentang rasa bingungnya, apa dan bagaimana. Biarkanlah dia tenggelam dalam kebingunngan demikian, itu adalah urusannya sendiri.

Ibnu Araby r.a. sebagai seorang Sufi besar pada zamannya, tercatat sebagai seorang yang taat melaksanakan perintah agama, seorang ahli syariat, seorang yang sangat ahli dalam Alquran dan Hadist, apakah kita harus menuduhnya sebagai seorang yang kafir? Sedangkan rangkuman sajaknya adalah perasaannya, getaran hatinya sendiri, bukankah dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam cetusan perasaannya itu?

Kalau Ibnu Araby r.a berada di zaman ini mungkin kita akan berkata padanya :

” Silahkan tuan dengan serba bingung,

Tuan puas dengan merenung,

Aku diam seribu bahasa,

Kelu lidahku tiada kata,

Engkau adalah engkau,

Aku adalah aku,

Aku dan engkau datang dari satu rumpun,

Kesanalah kita kembali. ”

Kesimpulan adalah, kata-kata “Alam ainul Hakki” atau “alam Mazhhar wujudullah” adalah dua kalimat yang sama maksud dan tujuannya.

  • Allah bertahwil (berubah keadaan) dalam segala rupa.

Salah seorang guru saya membuka masalah ini dengan kata-kata ” tidak mustahil bagi Allah mewujudkan sifatNya dalam rupa mahkluk, tetapi mustahil mahkluk sama dengan Allah “.

Zat dan sifat Allah tidak pernah dan tidak kan berubah-rubah. Namun bertahwilnya Allah s.w.t. adalah urusan Allah sendiri dan kehendaknya sendiri.

” Maa Sya’allahu Kaana Wamaa Lam Yasya’ Lam Yakun”

Artinya :

” Apa saja yang Allah kehendaki jadi, dan apa saja yang tidak dikehendaki Allah tak akan jadi “.

Mungkin kata “Tahwil” ini yang diartikan oleh Buya Hamka dengan kata “jelma” dalam tulisan beliau yang menyangkut faham Ibnu Araby, halaman 146 Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya.

Andai kata Allah itu bertahwil pada segala rupa dan keadaan sebagaimana akan terjadi di hari Kiamat, kemudian kita tidak mengkuinya sebagai Tuhan dengan ucapan ” A’udzubillahi Minka” (Aku berlindung kepada Allah dari pada engkau) maka hal tersebut tidaklah dipersalahkan. Yang tidak diterima itu adalah “rupa dan bentuknya” bukan ain wujudnya.

“Dunia sebagai sesuatu ” sedikit dari yang sedikit, orang yang mengasyikinya adalah hina dari segala hina ”

Yang paling ramai dibicarakan golongan Sufi adalah masalah dunia dan sikap hidup terhadapnya. Hampir semufakat mereka untuk menolak dunia dan keduniaan ini dengan bermacam-macam cara dan laku, dengan riyadhoh dan latihan, uzlah dan zuhud, berhaus berlapar perut, bertongkat mata diwaktu malam.

Apabila kita bertanya kepada mereka “kenapa anda berbuat emikian, berpayah-payah berlemas badan, cekung mata karena begadang, kapan lagi anda berjuang ?. Mereka menjawab dengan pandangan mata lurus kedepan “inilah namanya perjuangan payah kami ini, namun segar nyaman pasti mendatang – Inna ma’al usri yusran – dibalik kepayahan mengiringi kesenangan, lapar kami hari ini, besok kami akan kenyang, cekung mata hari ini, besok ia bertambah terang dan cemerlang, biarlah kami… biarlah kami..

Menurut adat dan kebiasaan, dipandang dari segi lahir dan kenyataan, bagaimana nanti nasib umat jika mereka terus menerus demikian. Mana lagi orang berzakat, mana lagi kegiatan membangun masjid, mana lagi perjuangan, dan bermacam tanya yang diajukan.

Ada yang mencela sikap mereka, dianggap hanya mengurus dirinya sendiri tidak lagi menghiraukan perjuangan dan kepentingan masyarakat banyak. Namun mereka tetap begitu dan terus begitu.

Tapi ada yang ganjil dan istimewanya. Sepatah kata dari mereka yang keluar dari mulut mereka untuk membangun jiwa ummat, ternyata lebih berharga dari seribu ucapan dan pidato seribu pejabat negeri.

Terdengar kabar dan berita, raja dan menteri datang bersujud dan sungkem kepada mereka memohon restu dan doa, apa katanya takut dilanggar, apa nasehatnya disimak dan didengar. Ini suatu kenyataan.

Betapa pengaruhnya ucapan dan kata panggilan Yang Mulia Tuan Guru H.Anang ‘Ilmi Martapura terhadap gerombolan Ibnu Hajar, sewaktu beliau hidup, tanyakanlah kepada bekas pengikutnya Ibnu Hajar yang masih ada sekarang ini.

Sebelum ada panggilan Tuan Guru, beribu kata dan himbauan, ratusan motir dan ribuan peluru yang dilepaskan, mereka tetap bertahan, Si Tuan Guru yang sederhana itu, berdoa dengan khusuk kepada Allah agar mereka kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Doa Yang Mulia Tuan Guru berhasil, kesatuan gerombolan datang berbondong-bondong kembali kekampung halaman dan keluarga.

Tapi sayang sungguh sayang. Masih ada yang mencemoohkan, apalah artinya panggilan dari seorang sederhana demikian, memanggil dan berdoa tidak menghabiskan sepiring nasi, yang berhasil itu hanyalah usaha lahir jua.

Sekarang timbul pertanyaan pada diri, apakah harus mengikuti jejak mereka dengan cara dan latihan yang demikian beratnya – namun besar manfaatnya – ataukah ada suatu sistem lain dengan tidak meninggalkan prinsip bahwa kehidupan akhirat jauh lebih berharga dari pada kehidupan dunia ?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita hendak melihat dahulu ciri-ciri khas ” hidup keduniaan ” dan ciri-ciri khas ” hidup keakhiratan atau kemalaikatan “. Laksana tanda tanda lalu lintas mana tanda yang harus kekanan, mana pula tanda yang harus kekiri, mana tanda boleh parkir kendaraan dan mana yang tidak.

Sesuai dengan ajaan Rasulullah, bahwa selama hidup di dunia, banyak tuntutannya untuk dapat menerapkan kehidupan keakhiratan, bahkan pernah beliau berpesan kepada dua sahabat beliau tersayang ( S. Umar dan S. Ali r.anhuma) agar kelak menemui seorang yang bernama Uwais Al-Qarni, seorang yang diberi gelar oleh Rasulullah, seorang manusia penduduk langit.

Arti pesan itu jelaslah bahwa ada jalan menempuh ” hidup keakhiratan ” selagi masih hidup dan di permukaan bumi ini.

Hidup keakhiratan yang kita maksudkan dapat pula disebutkan ” kehidupan alam malakut ” yang dengan sendirinya memperhatikan bagaimana hidupnya para malaikat.

  • Ciri-ciri khas hidup keakhiratan/alam malakut.
  1. Selalu zikir, tasbih, tahmid dan takbir.
  2. Selalu taat terhadap perintah Allah.
  3. Tidak pernah makan dan minum.
  4. Tidak berumah tangga.
  5. Tidak pernah sakit atau berobat.
  6. Tidak pernah sibuk/disibukkan mencari dan mengeluarkan biaya hidup.
  7. Tidak pernah tidur dan beristirahat.
  8. Menyampaikan petunjuk-petunjuk Allah untuk manusia.
  9. Dan lain-lain yang bersifat kerohanian.
  • Ciri-ciri khas hidup keduniaan.
  1. Sibuk mancari dan mengeluarkan biaya hidup.
  2. Mementingkan dan mengutamakan kepentingan perut, pakaian dan perumahan.
  3. Sibuk dengan kepentingan jasani.
  4. Sibuk dengan urusan rumah tangga atau masyarakat yang semata-mata duniawi.
  5. Lebih mementingkan diri pribadi.
  6. Berusaha sekuatnya mempertahankan hidup.
  7. Memerlukan waktu istrahat dan tidur.
  8. Sering menunjukkan permusuhan.
  9. Dan lain-lain yang bersifat jasmaniah serupa hayawaniah.

Sementara kalangan filsafat menyatakan pendapatnya, bahwa manusia ini adalah ” hayawanun – nathiq “ (binatang yang mampu berbicara dan berakal)

Manusia menghimpun dua unsur yang berlawanan, yaitu unsur malakiyah (kemalaikatan) dan Hayawaniah (kebinatangan) atau juga disebut unsur samawi (langit) dan unsur ardli (bumi).

Kedua unsur ini ada pada diri manusia saling tarik menarik siapa yang menang dalam pergulatan itu, maka di sanalah manusia ini akhirnya. Apabila dia tertarik oleh unsur malakiyah atau samawi maka beruntunglah manusia itu. Tetapi sebaliknya bila tarikan unsur hayawani atau ardli lebih kuat, maka rugilah manusia itu.

Maka untuk menjawab pertanyaan diatas, ambillah contoh Nabi Sulaiman a.s. yang kaya raya tapi tidak tersangkut hati dengan kekayaan, hatinya bener-benar rumah Allah, selalu dzikir dan puji kepada Allah, kekayaan dan harta bukan tempatnya dihati.

Ambillah pula contoh Nabi Yusuf a.s. berpangkat dan rebutan wanita, Tanda pangkat hanya sekeping perak atau tembaga atau sekedar emas sepuhan, bukan letaknya di hati, tetapi terletak di bahu kanan atau kiri, bisa dilepas bisa di pasang, tidak pula beliau tersangkut hati pada wanita dalam hatinya, karena hati ini mutlak sepenuhnya tempat zikir kepada Allah.

Inilah jawaban atas pertanyaan diatas, suatu cara yang mudah, hati dan roh adalah unsur langit, janganlah dia dijatuhkan ke bumi menjadi makanan binatang, cara ini adalah cara yang selamat. Ikutilah ajaran Allah dan Rasul dan ikutilah jejak Arif Billah, sediakan hati sepenuhnya untuk Allah, karena allah dengan Allah dan dari pada Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s